Upah Direksi serta Komisaris Emiten Besar Naik

Kenaikan Gaji – Deretan komisaris serta direksi emiten kakap ikut nikmati manisnya perkembangan kemampuan usaha th. lantas. Kompensasi yang di terima manajemen kunci selalu jadi membesar.

Th. lantas, perkembangan upah paling tinggi ditorehkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Selama 2016, keseluruhan kompensasi yang di terima deretan direksi serta komisaris TLKM meraih Rp 427 miliar. Jumlah ini tumbuh 154 % dibanding periode yang sama th. terlebih dulu, Rp 168 miliar.

Upah Direksi serta Komisaris Emiten Besar Naik
Upah Direksi serta Komisaris Emiten Besar Naik

Bila dibagi rata, direksi serta komisaris TLKM memperoleh upah serta imbalan kerja sejumlah Rp 2, 85 miliar per th.. ” Masalah remunerasi ini, telah di setujui beberapa pemegang saham, ” kata Arief Prabowo, Vice President Corporate Communications Telkom pada Kontan, Jumat (7/4/2017).

Kompensasi yang di terima ini telah termasuk juga upah bulanan, ditambah tantiem atau bonus kemampuan, tunjangan lain serta imbalan pasca kerja sepanjang setahun.

Terkecuali Telkom, pengurus PT Indofood Berhasil Makmur Tbk (INDF) juga nikmati kenaikan upah serta bonus cukup besar. Pertumbuhannya meraih 28 % year-on-year (yoy) jadi Rp 892, 124 miliar.

Namun, keadaan tidak sama berlangsung di bidang perbankan. Dari empat bank jumbo, hanya manajemen BBRI serta BMRI yang memperoleh kenaikan kompensasi. Kompensasi direksi BMRI naik 11 % jadi Rp 402, 92 miliar serta upah pejabat BBRI naik 3 % jadi Rp 305, 23 miliar.

Untuk upah bos BBCA susut 1 % jadi Rp 414, 59 miliar. Bahkan juga pendapatan pejabat BBNI turun 15 % jadi Rp 121, 99 miliar.

Kompensasi yang di terima begitu tergantung kemampuan. Dalam kompensasi itu, ada tantiem yang di pengaruhi perolehan laba. ” Saat laba naik, tantiemyang di terima juga naik, ” tutur analis Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan.

Demikian sebaliknya, saat laba turun, jadi tantiem turut susut. Namun ini cuma satu diantara basis perhitungan. Masihlah ada perhitungan lain, seperti pemberian kompensasi berdasar pada kapitalisasi pasar.

” Kompensasi yang di terima selama ini sesuai sama tanggung jawab serta sepadan dengan kemampuan yang dibuat, ” terang Alfred.

Namun, ia memberi satu catatan untuk BMRI. Bila upah naik lantaran kenaikan teratur tahunan, itu lumrah. Namun, bila jumlah tantiem yang di terima jadi membesar, hal semacam ini kurang cocok dengan kemampuan BMRI.

Th. lantas, tantiem yang di terima direksi BMRI Rp 242, 81 miliar, naik 17 % bila di banding periode sama th. terlebih dulu. Walau sebenarnya, laba th. jalan BMRI di 2016 Rp 14, 65 triliun, turun 31 % di banding 2015.

” Semestinya, ada punishment atau pemberian kompensasi yang berbanding lurus dengan kemampuannya, ” ungkap Alfred.

Baca juga :

Bima Setiaji, analis NH Korindo Securities Indonesia, sama pendapat. Basis perhitungan kompensasi memanglah banyak, namun harus juga diliat apakah kenaikannya setara dengan perkembangan laba. ” Janganlah kompensasi naik 10 % namun laba jadi minus, ” cetus Bima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *