Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan

Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan

Pertanggungjawaban Teror Novel Baswedan – Beberapa aktivis dari Koalisi Orang-orang Sipil lakukan tindakan mengecam tindakan kekerasan pada Novel Baswedan di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (11/4). Mereka dengan membawa gambar muka Novel memohon pemerintah untuk mengusut selesai kekerasan itu. (Kompas/Alif Ichwan)

Aku sungguh terperanjat mendengar pernyataan Yasri Yudha Yahya. Yudha yaitu satu diantara saksi mata sebagai penolong penyidik paling utama KPK Novel Baswedan.

Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan
Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan

“Saya lihat waktu di mobil, mengantarkan Novel ke Tempat tinggal Sakit. Itu awal kali aku lihat Novel buka kelopak matanya, terlebih dulu gak kuat untuk di buka. Aku lihat semua bola matanya putih, tak ada hitamnya, ” tutur Yudha.

Lantas, aku akan memberikan keyakinan kembali jawaban Yudha waktu itu.

“Jadi, irislah (sisi hitam di bola mata) Novel itu tak terlihat? Mata Novel putih semuanya? ” bertanya aku.

“Iya, ” tegas Yudha.

Wawancara ini, aku kerjakan di program AIMAN, yang tampil tiap-tiap Senin, jam 8 malam di KompasTV. Lagi-lagi aku terperanjat lihat beton serta jembatan semen ditempat Novel disiram air keras.

Aku kembali ajukan pertanyaan, pada Yudha, “Puth-putih ini sisa siraman air keras? ”

“Iya, ” jawab Yudha.

“Wah, aku tidak dapat memikirkan bila terserang muka, terlebih mata. Bila terserang semen serta beton saja, dapat tergerus seperti itu, ” ucap aku keheranan.

Kok dapat ada orang setega itu menyerang dengan air keras – yang terakhir aku kenali dari hasil penyelidikan Polisi memakai Asam kuat – dengan menyiram tertuju ke mata.

Yudha juga bercerita panjang lebar masalah bagaimana Novel mengerang kesakitan. Nada yg tidak pernah terdengar terlebih dulu.

Awalannya, warga yang setelah melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid dekat tempat tinggal Novel ini menduga, orang yang berteriak bukanlah Novel, namun perampok yang tengah dikejar massa. Demikian keras nada Novel mengerang menahan sakit yang mengagumkan dibagian matanya.

Novel diintai sebulan

Dari narasi ini, lalu aku tergugah untuk hampiri tempat tinggal Novel untuk tahu lebih dalam hal peristiwa ini serta apa yang berlangsung di beberapa saat terlebih dulu.

Aku mengira, Novel menceritakan komplit masalah peristiwa ini pada istri atau keluarga dekatnya. Waktu aku bertandang, Novel telah dibawa ke Singapura untuk melakukan perawatan intensif pengobatan luka mata serta berwajah.

Terlebih dulu, aku lihat tempat tinggal Novel tidak henti-henti didatangi kerabat serta tetangga. Mulai sejak padi sampai siang hari, aku ada disana. Aku membulatkan tekad untuk mengetuk pintu, serta buka pagar.

Mendadak, salah seseorang penjaga, yang terakhir aku tahu datang dari pengamanan internal KPK menyapa aku. Ia bertanya kepentingan aku masuk.

Aku katakan, aku menginginkan bertamu. Tanpa ada menjawab panjang lagi, aku masuk. Kebetulan, aku menjumpai istri Novel, Rina Emilda, didalam tempat tinggal.

Aku mohon maaf pada petugas KPK seraya memohon izin untuk bercakap sedikit dengan istri Novel. Emilda juga tidak keberatan. Aku bersukur. Ada beberapa pertanyaan yang aku kemukakan padanya, dalam wawancara dadakan itu.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan waktu menjenguk penyidik KPK Novel Baswedan di Tempat tinggal Sakit Mitra, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Srlasa (11/4/2017). (Istimewa)
“Mas Novel senantiasa bertukar-ganti langkah untuk meraih ke kantor. Mengapa mbak? ” bertanya aku.

“Karena telah terasa diintai, ” tutur Emilda.

“Sejak kapan? ” kembali aku ajukan pertanyaan.

“Mungkin kian lebih satu bulan lantas, ” jawar Emilda.

“Lebih dari satu bulan lantas? ” Bertanya aku terperanjat.

“Mas Novel, tidak selamanya naik motor ke kantor. Terkadang naik Uber, terkadang Go-jek, terkadang taksi, serta terkadang memakai mobil sendiri. Itu juga rutenya berubah-ubah. Tak pernah sama sehari-hari, ” terang Emilda.

“Mbak Emil tidak pernah memohon mas Novel berhenti dari KPK? ”

“Tidak mas. Aku yakin, semuanya pekerjaan itu ada resikonya. Serta semuanya kemungkinan itu, telah ada pada takdir Allah SWT, “ tutur Emilda.

“Mbak Emil bakal senantiasa temani mas Novel untuk pemberantasan korupsi di negeri ini, dalam keadaan apa pun serta dalam kemungkinan apa pun? ” bertanya aku.

“Iya, ” jawab istri Novel Baswedan ini tanpa ada kesangsian.

Serangan keenam

Aku tertegun sebentar mendengar jawaban istri Novel Baswedan. Jawaban tanpa ada kesangsian. Walau sebenarnya, aku tahu ada 5 anak yang perlu diasuh ke-2 orang-tua ini. Yang paling kecil, baru lahir 3 bln. lantas.

Aku memikirkan, bagaimana beratnya beban yang dijamin ke-2 orang-tua yang mempunyai 5 anak ini waktu kepala keluarga diambang kebutaan akibat serangan biadab selesai shalat subuh.

Apa yang dihadapi Novel minggu lantas, tidaklah kali awal berlangsung pada dianya. Ini yaitu serangan ke enam untuk Novel.

Paling akhir th. lantas, Novel ditabrak satu mobil. Bukanlah tabrakan umum. Penabrak tak segera kabur, tetapi mengulang tindakan itu dengan cara berniat, ke motor Novel. Data CCTV sudah dihimpun.

Bila diperkembang, tidak cuma Novel yang hadapi teror ini. Ada belasan kali teror yang lain pada penyidik KPK, pimpinan KPK serta bahkan juga pegawai KPK.

Tetapi, tidak ada satu juga yang berbuntut pada selesainya masalah. Dari belasan teror ini, tidak satu juga tersangka yang diputuskan.

Dimana negara yang tuturnya berperang bersihkan negeri dari korupsi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *