Bagaimana Jika S&P Tak Kunjung Memberi Peringkat Investment Grade?

Instansi pemeringkat Standard & Poor's

Investment Grade – Kepastian instansi pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) untuk menambah peringkat (rating) investasi untuk Indonesia masihlah menyebabkan sinyal bertanya untuk pasar.

Dari beberapa instansi pemeringkat yang memberi peringkat ke Indonesia, cuma S&P yang belum memberi peringkat layak investasi atau ” investment grade ” untuk Indonesia.

Lalu, apa efeknya bila lalu S&P selanjutnya tak menambah peringkat Indonesia ke investment grade?

Jawaban Menarik Bank Dunia

Instansi pemeringkat Standard & Poor's
Instansi Pemeringkat Standard & Poor’s

Bank Dunia miliki jawaban menarik. Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Hans Anand Beck menyebutkan kalau jika S&P tak menambah peringkat jadi investment grade, efeknya akan tidak sangat besar pada iklim investasi di Indonesia.

” Kami saksikan semestinya tak ada efek ke pasar keuangan pada umumnya, ” kata Hans Anand Beck di Kantor Bank Dunia, Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Dia berpandangan, Indonesia masihlah jadi maksud menarik untuk berinvestasi terutama di portofolio. Hal semacam ini tercermin dari besarnya ketertarikan investor pada surat utang negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah.

“Maka dari itu aliran masuk modal asing (capital inflow) masihlah deras, ” katanya.

Dia menilainya, keadaan fundamental ekonomi yang baik sudah mendorong Indonesia jadi maksud yang menarik untuk investasi.

Hal semacam ini tercermin dari inflasi, defisit transaksi jalan atau current akun deficit (CAD), serta defisit biaya yang dalam trend penurunan.

“Nilai ganti rupiah juga stabil. Dengan cara fundamental, keadaan ekonomi Indonesia masihlah positif, ” kata dia.

Sebatas info, pada th. lantas inflasi terdaftar sebesar 3, 02 %. Sesaat defisit transaksi jalan ada pada level 1, 8 %. Defisit biaya juga masihlah aman yaitu di level 2, 46 %.

Seirama dengan Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB) juga menilainya jika S&P mengambil keputusan tidak untuk menambah rating credit Indonesia efeknya akan tidak besar.

Hal semacam ini lantaran Indonesia telah memperoleh peringkat layak investasi dari dua instansi pemeringkat internasional lain, yakni Fitch Ratings serta Moody’s.

“Efeknya bakal minim lantaran dua yang lain telah investment grade kan. Kami saksikan Indonesia juga cukup kuat dari segi fundamental, namun bila kita memperoleh upgrade, positif sekali kami fikir, ” tutur Ekonom ADB, Priasto Aji.

Ia meneruskan, jika Indonesia memperoleh peringkat dari S&P, jadi bakal beresiko pada turunnya imbal hasil obligasi negara. Tidak cuma itu, kenaikan rating juga buka potensi meningkatnya aliran investasi dari luar negeri.

Akan tetapi, menurut dia, tak ada argumen untuk S&P tidak untuk berikan peringkat layak investasi ke Indonesia.

Pasalnya, perekonomian Indonesia telah tunjukkan perbaikan dibanding th. lantas. Disamping itu, pemerintah juga sudah lakukan reformasi dari segi fiskal

” Kami yakini, tak ada argumen untuk S&P tidak untuk menambah rating credit Indonesia, ” kata Aji.

S&P Juga Memberi Argumen 

Menurut conference summary S&P, masihlah beratnya rating layak investasi untuk Indonesia dikarenakan oleh sebagian aspek.

Awal, walau mulai berkelanjutan, masihlah butuh kajian selanjutnya atas keseimbangan fiskal. Ke-2, perkembangan product domestik bruto Indonesia masihlah lambat.

Ketiga, di bidang perbankan, ada kecemasan atas memburuknya kwalitas credit bank akibat utang debitur yang tinggi serta harga komoditas rendah. Di segi lain, utang dollar AS korporasi tinggi.

S&P juga menyoroti penurunan keuntungan korporasi dalam periode panjang. Pasalnya, cost utang di Indonesia paling tinggi di banding dengan negara selevel.

Di Indonesia, cost utang meraih 3 %, di negara-negara ASEAN rata-rata hanya 0, 2 persen-1, 2 %.

Diluar itu, trend keuntungan bank di Indonesia juga selalu turun. (Ghina Ghaliya Quddus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *