KPK Masihlah Kaji Jenis Perlindungan yang Pas untuk Penyidik

Perlindungan Penyidik – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masihlah mencari jenis perlindungan yang sesuai sama untuk penyidik serta pegawai yang lain di bagian penindakan. Hal semacam ini dikerjakan menyusul terjadinya serangan dengan cara fisik pada penyidik KPK Novel Baswedan.

” KPK tengah membahas jenis perlindungan yang pas untuk pengamanan penyelidik, penyidik, serta penuntut KPK. Sesudah kajian itu, bakal ditetapkan jenis pengamanan yang cocok, ” tutur Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif lewat pesan singkat, Minggu (16/4/2017).

KPK Kaji Perlindungan untuk Penyidik

KPK Kaji Perlindungan Penyidik
KPK Kaji Perlindungan Penyidik

Pengamanan Bagi Para Penyidik

Kajian mengenai jenis pengamanan pada penyidik bukan sekedar dikaji dengan cara internal KPK. Kajian juga melibatkan Polri.

Beberapa aktivis antikorupsi berasumsi penyiraman air keras pada Novel Baswedan berniat dikerjakan untuk melemahkan kemampuannya sebagai aparat penegak hukum.

Penyerangan itu dilatari lantaran beberapa masalah yang diakukan Novel Baswedan tidaklah masalah kecil, satu diantaranya perkara sangkaan korupsi pengadaan e-KTP.

Peneliti Divisi Monitoring Hukum serta Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho berasumsi KPK butuh bikin unit keamanan spesial yang berdiri sendiri. Unit itu nanti bertugas mengawal serta mengamankan personel di KPK supaya peristiwa seperti yang dihadapi Novel tidak berlangsung lagi.

Novel memperoleh serangan fisik dari orang yang belum di ketahui jati dirinya pada Selasa (11/4/2017). Menurut info, selesai melakukan shalat subuh di dekat tempat tinggalnya di Kelapa Gading, Novel dihampiri oleh dua orang yang lalu menyiramkan cairan disangka air keras ke arah muka Novel.

Akibat hal semacam itu, ke-2 mata Novel terluka serta memerlukan perawatan intensif dari tim dokter.

Tarik Ulur Support Laga Islam di Pilkada Jakarta

Pilkada Jakarta – Sekurang-kurangnya ada empat laga Islam, atau berbasiskan massa Islam, yang berperan serta dalam Pilkada DKI Jakarta. Keempatnya yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Laga Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dari ke empat laga itu, baru PKS serta PAN yang dengan cara tegas menayatakana supportnya ke pasangan calon Anies Baswedan Sandiaga Uno.

Pendukung Islam dalam Pilkada Jakarta

Dukungan Partai Islam di Pilkada Jakarta
Dukungan Partai Islam di Pilkada Jakarta

Disamping itu, support PPP serta PKB ke pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Djarot Syaiful Hidayat belum dapat di pastikan. Support yang baru di sampaikan semasing laga baru dikerjakan oleh Dewan Pimpinan Lokasi (DPW).

Terlebih, selesai penetapan hasil penentuan putaran awal, ke-2 laga itu pernah menyaratkan untuk mengalihkan supportnya pada pasangan Anies-Sandi. Langkah itu dikerjakan sesudah mereka tidak berhasil memenangkan pasangan calon Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviaan Murni, yang notabene banyak juga diambil oleh beberapa pemilih muslim.

Oleh karenanya, untuk PPP serta PKB, mensupport pasangan Ahok- Djarot dapat jadi mengkhianati beberapa pemilih mereka yang pada putaran awal sudah pilih pasangan calon yang mempunyai persamaan latar belakang agama.

Direktur Eksekutif Indo barometer Muhammad Qodar menilainya lumrah dinamika yang berlangsung pada partai-partai Islam dalam mementukan support di putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta.

Peran Pendukung Islam di Pilkada Jakarta

Menurut Qodari, ada dua petimbangan yang melatarbelakangi arah support laga Islam di Pilkada DKI putaran ke-2, terutama untuk PPP serta PKB.

” Awal mereka pasti pikirkan basis saat mereka, beberapa pemilih muslim yang dalam soal ini masihlah memperhitungkan segi agama dalam pilihannya, terlebih karenanya ada masalah sangkaan penistaan agama, ” kata Qodari waktu dihubungi, Minggu (16/4/2017).

Ia menyebutkan, sikap pemilih pada Pilkada DKI termasuk unik. Hal semacam ini tampak dari sebagian besar wrga DKI yang muslim sejatinya terasa senang dengan kemampuan Ahok Djarot dalam memimpin DKI di periode terlebih dulu.

Itu, kata Qodari, tampak dalam sebagian hasil survey yang sudah dikerjakan oleh sebagian instansi survey. Tetapi, karenanya ada masalah sangkaan penistaan agama, mereka memikirkan lagi untuk kembali pilih Ahok Djarot.

Hal semacam ini terlebih menempa beberapa pemilih yang mempunyai latar belakang keagamaan yang kuat.

Karakteristik pemilih seperti itu memanglah terdapat banyak pada laga Islam, atau berbasiskan massa Islam, terutama di PPP serta PKB.

“Jadi kenikmatan atas kemampuan Ahok Djarot tak berbanding lurus pada elektabilitas, sebab beberapa pemilih masihlah memperhitungkan segi emosional serta psikologis mereka karenanya ada masalah sangkaan penistaan agama itu, ” lanjut Qodari.

Pertimbangan ke-2, kata Qodari, terdapat pada rekanan PPP serta PKB dengan partai-partai pendukung pemerintah di gerbong koalisi pada level nasional.

Hal itu, menurut Qodari, juga jadi pertimbangan yang utama. Begitu bisa saja gerbong koalisi nasional lihat ada kesinambungan pada program kerja pemerintah pusat dengan Ahok- Djarot.

Oleh karenanya, dengan mensupport pasangan Ahok- Djarot dinilai ikut menyukseskan program kerja pemerintah pusat.

” Terlebih berdasar pada survey, orang-orang senang dengan kemampuan Ahok- Djarot, itu lalu jadi akasan yang rasional untuk partai-partai di gerbong koalisi nasional untuk mensupport Ahok Djarot, ” tutur Qodari.

“Karenanya, untuk laga Islam yang lalu mengalihkan supportnya ke Ahok- Djarot, pekerjaan mereka setelah itu adalah memberikan keyakinan beberapa pemilihnya kembali agar akar rumput juga searah dengan ketentuan elit, ” ucap dia lagi.

Pansel Petinggi PPATK dan Ketekunan Presiden Jokowi

Panitia Seleksi – Sampai kini banyak orang-orang skeptis pada sistem seleksi petinggi pemerintah. Sistem seleksi oleh panitia seleksi (pansel) dinilai cuma normalitas belaka untuk penuhi ketentuan yang ada.

Disebut normalitas lantaran petinggi yang dipilih umumnya sudah ditetapkan mulai sejak awal, bahkan juga mulai sejak sebelumnya pansel bertugas. Orang-orang menilainya petinggi yang dipilih sejatinya bukanlah hasil seleksi oleh pansel, tetapi oleh lobi-lobi penguasa serta laga politik.

Panitia Seleksi PPATK hanya formalitas?

Pansel Pejabat PPATK dan Konsistensi Presiden Jokowi
Pansel Pejabat PPATK dan Konsistensi Presiden Jokowi

Tetapi, Presiden Joko Widodo nampaknya berusaha untuk merubah stigma itu. Dalam sebagian sistem seleksi, Presiden Jokowi memberi kewenangan penuh pada pansel untuk pilih calon paling baik, tanpa ada intervensi dari siapa juga termasuk juga dari istana.

Sistem seleksi diinginkan berjalan objektif, tidak ada calon “titipan” dari pihak mana juga. Jokowi menginginkan tunjukkan, sistem penentuan petinggi di negeri ini telah menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas serta transparansi sebagai cermin budaya bangsa besar yang maju serta beradab.

Paling akhir, itu dibuktikan Jokowi waktu berlangsungnya sistem seleksi calon dewan komisioner Otoritas Layanan Keuangan (OJK) oleh pansel yang diketuai Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan anggota diantaranya Menko Perekonomian Darmin Nasution serta Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

Panitia Seleksi PPATK Dinilai Kurang Transparan

Calon dari laga politik yang umumnya berjaya pada seleksi-seleksi terlebih dulu, di buat gigit jari oleh Sri Mulyani cs. Ini tunjukkan Jokowi menyerahkan kewenangan penuh pada pansel walau mungkin saja saja ada keinginan supaya presiden lakukan intervensi manfaat mengamankan calon berkaitan.

Ketiadaan intervensi dari Jokowi pada pansel OJK juga tampak dari gugurnya calon yang di kenal dekat dengan istana serta laga penguasa.

Bahkan juga, waktu pansel menyerahkan 21 nama calon komioner OJK, Presiden Jokowi begitu menghormati hasil pilihan pansel itu.

Dari 21 nama itu, pansel mengurutkan 3 calon dalam 7 jabatan berdasar pada score penilaian. Calon yang memperoleh score tertinggi diletakkan pada urutan awal.

Lantaran menghormati penilaian pansel, Jokowi juga mencoret semua calon dengan nomor urut tiga. Ini bermakna Presiden Jokowi otomatis ikuti kehendak pansel untuk pilih calon-calon paling baik berdasar pada penilaian pansel.

Walau sebenarnya, Jokowi miliki wewenang untuk mencoret nama siapapun, termasuk juga calon dengan peringkat awal.

Prinsip Jokowi untuk menjunjung objektivitas pada akhirnya menimbulkan calon-calon yang termasuk “bukan orang siapa-siapa” atau non partisan. Ia dipilih semata lantaran kemampuan, integritas, serta profesionalismenya.

Pansel PPATK

Tetapi terakhir, objektivitas Jokowi mulai dipertanyakan. Ini berkaitan dengan sistem seleksi deputi pada Pusat Pelaporan serta Analisa Transaksi Keuangan (PPATK).

Dalam seleksi itu, Presiden Jokowi nyatanya menganulir hasil seleksi Deputi Bagian Pemberantasan yang diusulkan Kepala PPATK. Tak diterangkan kenapa hasil seleksi itu dibatalkan.

Istana lalu memohon PPATK untuk mengadakan seleksi lagi serta mengemukakan akhirnya selekasnya pada Presiden. Walau sebenarnya, hasil seleksi yang dikerjakan PPATK telah objektif serta komprehensif.

Langkah yang dikerjakan Jokowi dalam seleksi petinggi PPATK itu bertentangan dengan objektivitas yang diperlihatkan Jokowi sampai kini.

Tanpa ada objektivitas, “calon-calon titipan” bakal kembali nampak. Efeknya, calon yang dipilih tidaklah calon paling baik dari sisi kompetensi serta integritas.

Bila ini berlangsung pada PPATK, pasti begitu disayangkan. Berbarengan KPK, PPATK adalah instansi yang masihlah memperoleh keyakinan tinggi dari orang-orang.

Di dalam anjloknya integritas petinggi di beberapa instansi, PPATK serta KPK seakan jadi yang tersisa untuk umum untuk menginginkan Indonesia bersih dari korupsi.

Sampai kini, PPATK jadi tandem KPK untuk membuka beberapa masalah korupsi yang membelenggu negeri ini.

PPATK memasok data-data serta analisa transaksi keuangan yang mempermudah KPK menelusuri modus serta pelaku korupsi serta pencucian duit.

Bisa dipikirkan, apa yang berlangsung apabila data-data yang dipunyai PPATK dikuasai oleh petinggi yang kurang mempunyai integritas. Data-data itu pasti dapat hilang atau tak ditindaklanjuti dengan harusnya.

Artinya, pemberantasan korupsi di negeri ini bakal mandek. Terlebih, KPK sepanjang ini dapat selalu dirongrong eksistensinya, termasuk juga teror pada Novel Baswedan, penyidik andalam KPK.

Saat ini, PPATK juga cobalah dilemahkan serta ditumpulkan taringnya. Sungguh suram usaha pemberantasan korupsi di Indonesia.

Kita cuma dapat mengharapkan, Presiden Jokowi kembali berkelanjutan serta objektif dalam pilih petinggi di negeri ini.

Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan

Pertanggungjawaban Teror Novel Baswedan – Beberapa aktivis dari Koalisi Orang-orang Sipil lakukan tindakan mengecam tindakan kekerasan pada Novel Baswedan di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (11/4). Mereka dengan membawa gambar muka Novel memohon pemerintah untuk mengusut selesai kekerasan itu. (Kompas/Alif Ichwan)

Aku sungguh terperanjat mendengar pernyataan Yasri Yudha Yahya. Yudha yaitu satu diantara saksi mata sebagai penolong penyidik paling utama KPK Novel Baswedan.

Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan
Pertanggungjawaban Kekerasan yang Terjadi Pada Novel Baswedan

“Saya lihat waktu di mobil, mengantarkan Novel ke Tempat tinggal Sakit. Itu awal kali aku lihat Novel buka kelopak matanya, terlebih dulu gak kuat untuk di buka. Aku lihat semua bola matanya putih, tak ada hitamnya, ” tutur Yudha.

Lantas, aku akan memberikan keyakinan kembali jawaban Yudha waktu itu.

“Jadi, irislah (sisi hitam di bola mata) Novel itu tak terlihat? Mata Novel putih semuanya? ” bertanya aku.

“Iya, ” tegas Yudha.

Wawancara ini, aku kerjakan di program AIMAN, yang tampil tiap-tiap Senin, jam 8 malam di KompasTV. Lagi-lagi aku terperanjat lihat beton serta jembatan semen ditempat Novel disiram air keras.

Aku kembali ajukan pertanyaan, pada Yudha, “Puth-putih ini sisa siraman air keras? ”

“Iya, ” jawab Yudha.

“Wah, aku tidak dapat memikirkan bila terserang muka, terlebih mata. Bila terserang semen serta beton saja, dapat tergerus seperti itu, ” ucap aku keheranan.

Kok dapat ada orang setega itu menyerang dengan air keras – yang terakhir aku kenali dari hasil penyelidikan Polisi memakai Asam kuat – dengan menyiram tertuju ke mata.

Yudha juga bercerita panjang lebar masalah bagaimana Novel mengerang kesakitan. Nada yg tidak pernah terdengar terlebih dulu.

Awalannya, warga yang setelah melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid dekat tempat tinggal Novel ini menduga, orang yang berteriak bukanlah Novel, namun perampok yang tengah dikejar massa. Demikian keras nada Novel mengerang menahan sakit yang mengagumkan dibagian matanya.

Novel diintai sebulan

Dari narasi ini, lalu aku tergugah untuk hampiri tempat tinggal Novel untuk tahu lebih dalam hal peristiwa ini serta apa yang berlangsung di beberapa saat terlebih dulu.

Aku mengira, Novel menceritakan komplit masalah peristiwa ini pada istri atau keluarga dekatnya. Waktu aku bertandang, Novel telah dibawa ke Singapura untuk melakukan perawatan intensif pengobatan luka mata serta berwajah.

Terlebih dulu, aku lihat tempat tinggal Novel tidak henti-henti didatangi kerabat serta tetangga. Mulai sejak padi sampai siang hari, aku ada disana. Aku membulatkan tekad untuk mengetuk pintu, serta buka pagar.

Mendadak, salah seseorang penjaga, yang terakhir aku tahu datang dari pengamanan internal KPK menyapa aku. Ia bertanya kepentingan aku masuk.

Aku katakan, aku menginginkan bertamu. Tanpa ada menjawab panjang lagi, aku masuk. Kebetulan, aku menjumpai istri Novel, Rina Emilda, didalam tempat tinggal.

Aku mohon maaf pada petugas KPK seraya memohon izin untuk bercakap sedikit dengan istri Novel. Emilda juga tidak keberatan. Aku bersukur. Ada beberapa pertanyaan yang aku kemukakan padanya, dalam wawancara dadakan itu.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan waktu menjenguk penyidik KPK Novel Baswedan di Tempat tinggal Sakit Mitra, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Srlasa (11/4/2017). (Istimewa)
“Mas Novel senantiasa bertukar-ganti langkah untuk meraih ke kantor. Mengapa mbak? ” bertanya aku.

“Karena telah terasa diintai, ” tutur Emilda.

“Sejak kapan? ” kembali aku ajukan pertanyaan.

“Mungkin kian lebih satu bulan lantas, ” jawar Emilda.

“Lebih dari satu bulan lantas? ” Bertanya aku terperanjat.

“Mas Novel, tidak selamanya naik motor ke kantor. Terkadang naik Uber, terkadang Go-jek, terkadang taksi, serta terkadang memakai mobil sendiri. Itu juga rutenya berubah-ubah. Tak pernah sama sehari-hari, ” terang Emilda.

“Mbak Emil tidak pernah memohon mas Novel berhenti dari KPK? ”

“Tidak mas. Aku yakin, semuanya pekerjaan itu ada resikonya. Serta semuanya kemungkinan itu, telah ada pada takdir Allah SWT, “ tutur Emilda.

“Mbak Emil bakal senantiasa temani mas Novel untuk pemberantasan korupsi di negeri ini, dalam keadaan apa pun serta dalam kemungkinan apa pun? ” bertanya aku.

“Iya, ” jawab istri Novel Baswedan ini tanpa ada kesangsian.

Serangan keenam

Aku tertegun sebentar mendengar jawaban istri Novel Baswedan. Jawaban tanpa ada kesangsian. Walau sebenarnya, aku tahu ada 5 anak yang perlu diasuh ke-2 orang-tua ini. Yang paling kecil, baru lahir 3 bln. lantas.

Aku memikirkan, bagaimana beratnya beban yang dijamin ke-2 orang-tua yang mempunyai 5 anak ini waktu kepala keluarga diambang kebutaan akibat serangan biadab selesai shalat subuh.

Apa yang dihadapi Novel minggu lantas, tidaklah kali awal berlangsung pada dianya. Ini yaitu serangan ke enam untuk Novel.

Paling akhir th. lantas, Novel ditabrak satu mobil. Bukanlah tabrakan umum. Penabrak tak segera kabur, tetapi mengulang tindakan itu dengan cara berniat, ke motor Novel. Data CCTV sudah dihimpun.

Bila diperkembang, tidak cuma Novel yang hadapi teror ini. Ada belasan kali teror yang lain pada penyidik KPK, pimpinan KPK serta bahkan juga pegawai KPK.

Tetapi, tidak ada satu juga yang berbuntut pada selesainya masalah. Dari belasan teror ini, tidak satu juga tersangka yang diputuskan.

Dimana negara yang tuturnya berperang bersihkan negeri dari korupsi?

Harapan Komisi Yudisial Pada Calon Hakim Agung

Harapan Komisi Yudisial Pada Calon Hakim Agung – Komisi Yudisial (KY) mengharapkan orang-orang turut bertindak dalam sistem seleksi calon hakim agung.

Partisipasi orang-orang dinilai utama untuk melahirkan hakim agung yang berintegritas.

Seleksi Calon Hakim Agung dengan Serius

Harapan Komisi Yudisial Pada Calon Hakim Agung
Harapan Komisi Yudisial Pada Calon Hakim Agung

Partisipasi Masyarakat dalam Seleksi Hakim

” KY menginginkan partisipasi orang-orang supaya memberi info atau pendapat dengan cara tercatat mengenai integritas, kemampuan, tingkah laku, serta karakter calon hakim agung yang dinyatakan penuhi kriteria administrasi, ” tutur Juru Bicara KY Farid Wajdi pada Kompas. com, Minggu (16/4/2017).

Info atau pendapat tercatat dari orang-orang diinginkan telah di terima Tim Seleksi Calon Hakim Agung, paling lambat pada 5 Juni 2017 jam 16. 00 WIB.

Orang-orang yang menginginkan berperan serta bisa mencantumkan jati diri dengan terang serta kirim pendapat ke alamat e-mail [email protected] go. id.

Diluar itu, pesan tercatat juga dapat diantar ke alamat Komisi Yudisial Republik Indonesia (Tim Seleksi Calon Hakim Agung) di Jalan Kramat Raya No 57, Telp : (021) 3905876-77/31903661 Fax : (021) 31903661, Jakarta Pusat (10450).

Sekarang ini, sejumlah 82 calon hakim agung dinyatakan lolos dalam seleksi administrasi.

Beberapa nama peserta yang lolos diputuskan berdasar pada Rapat Pleno Komisi Yudisial atas 88 peserta yang mendaftar seleksi.

Pengumuman hasil seleksi administrasi bisa diliat di situs KY, yakni www. komisiyudisial. go. id.

Calon hakim agung yang penuhi kriteria administrasi memiliki hak ikuti bagian setelah itu, yakni Step II (seleksi kwalitas) yang bakal dikerjakan pada 26- 27 April 2017 di Tubuh Riset serta Pengembangan serta Pendidikan serta Kursus Hukum serta Peradilan Mahkamah Agung, Mega Mendung, Bogor.

Menurut Farid, materi yang diujikan pada seleksi kwalitas mencakup, menulis makalah ditempat, studi masalah hukum, studi masalah kode etik serta dasar tingkah laku hakim, serta tes objektif.

Ini Harapan Uskup Agung pada Pilkada DKI Putaran Ke-2

Harapan Uskup Agung pada Pilkada DKI – Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo memohon pada umat Katolik supaya memprioritaskan nilai kebangsaan serta Kebhinekaan dalam memberi hak politiknya di Pilkada DKI putaran ke-2.

Pada Rabu (19/4/2017), orang-orang Jakarta bakal memastikan kepala daerah.

” Umat Katolik harus memprioritaskan kebangsaan serta Kebhinekaan yang aku berharap bisa memberi arti positif untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar pada Pancasila, ” kata Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (16/4/2017).

Berita Sebelum Pilkada DKI

Harapan Uskup Agung pada Pilkada DKI
Harapan Uskup Agung pada Pilkada DKI

Menurut Suharyo, Pilkada Jakarta mempunyai arti utama untuk hari esok bangsa Indonesia.

Karenanya, ia memohon pada umat Katolik yang sudah mempunyai hak tentukan bisa memberi prioritas saat ke kotak nada.

Dalam peluang itu, Suharyo memohon pada umat Katolik supaya tak memakai gereja untuk aktivitas politik.

Menjaga Ketertiban Gereja

” Mohon dijaga supaya Gereja tak jadikan tempat atau fasilitas untuk berkampanye berbentuk apa pun, ” tutur Suharyo.

Diluar itu, Suharyo mengharapkan umat Katolik bisa berlaku tenang serta memikirkan jernih dalam menanggapi kondisi mendekati pemakaian hak nada.

” Kita bersukur serta mensupport semua usaha pemerintah untuk memberi rasa aman serta melindungi situasi damai, ” ucap Suharyo.

Kiai dan Ulama Disebut-sebut Sebagai Pemersatu Umat Beragama

Kiai dan Ulama Jadi Pemersatu Umat Beragama -Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan kalau histori kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari perjuangan beberapa kiai serta ulama. Menurut Gatot, sekarang ini kiai serta ulama dipercaya bisa jadi pemersatu umat beragama.

Hal semacam itu disebutkan Gatot di hadapan 10. 000 santri Pondok Pesantren Buntet, Jawa Barat, Sabtu (15/4/2017) malam.

” Bangsa Indonesia merdeka lantaran peran aktif beberapa kiai serta ulama berbarengan dengan umat agama lain, beragam jenis suku berjuang berbarengan hingga Indonesia jadi bangsa yang hebat dalam mencapai kemerdekaan, ” tutur Gatot dalam siaran pers Pusat Penerangan TNI yang di terima Kompas. com, Minggu (16/4/2017).

Kiai dan Ulama Sebagai Pemersatu Agama

Kiai dan Ulama Disebut-sebut Sebagai Pemersatu Umat Beragama
Kiai dan Ulama Disebut-sebut Sebagai Pemersatu Umat Beragama

Panglima TNI Sebut Kiai dan Ulama Sebagai Pemersatu Agama

Menurut Gatot, sekarang ini banyak orang-orang yang mulai terpecah dalam beragam grup spesifik. Beberapa dari grup itu ada yang terasa tambah baik serta terasa semakin banyak berjasa untuk Indonesia.

Gatot mengingatkan kalau perjuangan beberapa kiai serta ulama di saat awal kemerdekaan adalah contoh yang perlu ditiru sampai sekarang ini. Menurut Gatot, beberapa kiai serta ulama sukses menjadikan satu beragam kemajemukan orang-orang Indonesia.

” Berikut yang perlu kita cermati, ada grup yang paling terasa benar, terhebat, tak seperti ulama yang menyatu padu berbarengan agama yang lain serta bangkit ketika bangsa membutuhkannya, ” kata Gatot.

Menurut Gatot, satu diantara langkah untuk isi kemerdekaan serta menjaga Indonesia supaya tetaplah berdiri teguh, yaitu dengan tak membedakan agama satu dengan yang lain. Diakhir sambutannya, Gatot mengharapkan beberapa santri dapat menghidupkan kebersamaan dengan beragam komponen untuk melindungi ketentraman.

” Negara Indonesia yaitu sebagian besar beragama Islam yang betul-betul demokrasi dalam mengajarkan kebaikan, ” kata Gatot.

Porli Bicara Tidak Miliki Kebutuhan di Pilkada DKI Jakarta

Kebutuhan di Pilkada DKI JakartaKepala Sisi Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul menyampaikan, kepolisian selektif dalam menindaklanjuti laporan orang-orang sepanjang penyelenggaraan pilkada, terutama di DKI Jakarta.

Umpamanya berkaitan pasangan calon, jadi penindakannya bakal dipending terlebih dulu.

Melengkapi Kebutuhan di Pilkada DKI

Polisi di Pilkada DKI Jakarta
Polisi di Pilkada DKI Jakarta

Polisi di Pilkada DKI Jakarta

” Ada laporan-laporan, kami selalu kerjakan sistem. Berkaitan sebagian pasangan itu kami menunda dahulu, ” tutur Martinus dalam diskusi bertopik ” Pilkada Sehat serta Demokratis ” di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/4/2017).

Martinus menerangkan, dalam menindaklanjuti laporan itu polisi mesti lihat potensi efek dinamika sosial yang bakal berlangsung. Oleh karenanya, kepolisian mesti bijak dalam menindaklanjuti laporan yang masuk.

” Kami lihat disini kalau persoalan dapat saja dipicu dari penegakan hukum yang ada. Hingga, kami mesti bijak memperhitungkan ini, ” kata Martinus.

Akan tetapi, Martinus tak dapat mengatakan laporan apa sajakah yang telah ditindaklanjuti serta yang masihlah ditahan penindakannya.

” Aku tak miliki catatan persis, masihlah menanti sebagian yang diolah hukum waktu sistem pilkada putaran awal, ” kata dia.

Martinus menyampaikan, dalam mengawal penyelenggaraan pilkada, terutama di DKI Jakarta, jadi kepolisian mesti tunjukkan netralitas. Pemilahan dalam menindaklanjuti laporan orang-orang mempunyai tujuan untuk terjaganya ketertiban di orang-orang.

” Kami sekalipun tak miliki kebutuhan apapun dalam Pilkada DKI, terkecuali kalau kondisi ketertiban Kamtibmas (keamanan serta ketertiban orang-orang) terbangun dengan baik, ” kata Martinus.

Baca juga :

” Semuanya elemen orang-orang bisa melakukan aktivitas, jangan pernah terganggu. Orang-orang mencari (melakukan) pekerjaannya juga dapat. Jangan pernah terhalangi, itu yang kami usahakan, ” tutur dia.

Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan

Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan – Presiden Joko Widodo memohon orang-orang untuk sama-sama menghormati ketidaksamaan yang ada pada grup yang satu serta yang lain waktu melaksanakan ibadah di masjid.

Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan

Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan
Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan

Jokowi Mengajak Menghargai Ketidaksamaan

” Sekali lagi butuh aku berikan, negara kita ini majemuk, negara kita ini bermacam, negara kita ini plural. Oleh karenanya aku mengajak untuk kita semua sama-sama menghormati, sama-sama menghormati antar-saudara kita, ” tutur Jokowi di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta, Jakarta Barat, Sabtu (15/4/2017).

Ia mengemukakan hal itu dalam menjawab pertanyaan mass media yang memohon responnya atas masjid di Jakarta yang dipakai untuk kebutuhan politik pihak spesifik, terutama pada saat Pilkada DKI 2017.

Jokowi menyebutkan, pembangunan masjid raya ini tunjukkan kalau pemerintah tidak cuma konsentrasi pada masalah ekonomi.

Bekas Wali Kota Solo itu menyampaikan, hal-hal lain seperti segi keagamaan dalam orang-orang juga butuh di perhatikan.

Oleh karenanya, lanjut Jokowi, pembangunan di bagian ekonomi juga butuh diseimbangkan dengan pembangunan di bagian keagamaan.

Satu diantaranya dengan bangun tempat beribadah. Ia juga mengharapkan masjid raya ini nanti jadi pemersatu semua umat Islam di Jakarta.

Baca juga :

” Masjid raya kelak bukan sekedar di Jakarta Barat, namun kelak ada juga di Jakarta Selatan, di Jakarta Timur. Lantaran yang utara kan telah ada Islamic Center, ” lanjut Jokowi.

Polisi Mengecek 16 Saksi dalam Masalah Penyerangan Novel Baswedan

Penyerangan Novel Baswedan – Kepolisian masihlah berusaha membuka pelaku penyiraman cairan type asam sulfat pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Kepala Sisi Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengemukakan, sampai sekarang ini tim paduan Bareskrim Polri serta Polda Metro Jaya sudah mengecek beberapa saksi.

Saksi Masalah Penyerangan Novel Baswedan

Kasus Penyerangan Novel Baswedan
Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Polisi Mengecek 16 Saksi

” Ada 16 saksi yang di check. Mereka tentunya orang yang tahu serta mendengar momen itu, ” tutur Martinus selesai menghadiri diskusi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/4/2017).

Menurut Martinus, masihlah ada beberapa orang yang bakal di check sebagai saksi. Bahkan juga, penyidik akan memohon info dari Novel.

Penggalian info bakal dikerjakan sesudah Novel sembuh. Novel sekarang ini masihlah melakukan perawatan di Singapura.

” Kami perlu info penambahan dari Novel, namun yang berkaitan masihlah berobat di Singapura. Kami usahakan kesembuhan dahulu, ” kata dia.

Martinus meneruskan, terkecuali mengecek saksi, penyidik juga masihlah mengkaji CCTV yang ada dirumah Novel.

Diluar itu, perbincangan yang berlangsung di sekitaran tempat peristiwa juga dianalisis.

” CCTV dirumah Novel ada satu kami analisa?. Diluar itu kami juga kerjakan analisa IT, yaitu analisa pada sebagian perbincangan di lokasi itu, ” kata dia.

Martinus menyampaikan, nanti semua hasil analisa itu dihimpun manfaat memperoleh rangkaian utuh dari momen itu.

” Yang pasti kami selalu bekerja profesional, kami perlu saat, ” katanya.

Novel terlebih dulu terserang dua orang tidak di kenal dengan memakai cairan yang disangka adalah air keras.

Baca juga :

Momen itu berlangsung selesai Novel selesai menunaikan beribadah shalat subuh di masjid dekat tempat tinggalnya di lokasi Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ke-2 orang itu segera melarikan diri memakai sepeda motor sesudah menyerang Novel.